Senin, 30 Januari 2012

Renungan Hari Ulang tahun

Tulisan ini saya maksudkan untuk refleksi dalam rangka ulang tahun kelahiran saya, 31 Januari 1983.
Untuk melakukan refleksi ulang tahun, orang selalu memulai dengan kata tidak terasa. tidak terasa ya, sudah segini usiaku. Ketidak terasaan dalam menjalani hari atau waktu menandakan sesuatu, yaitu waktu yang kita alami terasa cepat. Terasa cepatnya waktu bagi kita tidak selalu bermakna tunggal, yaitu senang. Hidup manusia menjadi indah justru karena didalamnya terjadi dinamika antara suka, duka, susah, senang. seperti sebuah lukisan yang indah karena terdiri dari berbagai warna.
kata ulang tahun sebenarnya kurang tepat dan absurd. Ulang tahun bermakna bahwa kita mengulangi kembali tahun, seolah-olah tahun itu kembali seperti jarum jam yang berjalan dari angka pertama mengelilingi angka-angka lainnya sampai kemudian dia kembali kepada angka pertama lagi. Realitas waktu sebenarnya tidak berputar, melainkan terus berjalan dan tidak berujung. Tahun, sebagai salah satu konsep dari waktu merupakan penanda saja. Manusia melalui ilmu pengetahuan menyederhanakan dan mendefinisikan tanda atau kejadian alami salah satunya adalah waktu.
Ciri ilmu pengetahuan adalah tersusun secara sistematis. Untuk sistematika itu, maka waktu dibagi-bagi dalam beberapa bagian dari milenium, abad, dasawarsa,tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit, dan detik. Waktu itu disusun untuk memudahkan kesadaran manusia yang kemudian menjadikannya penanda. Pembagian waktu yang jarang digunakan juga pada akhirnya tidak terlalu relevan dan akhirnya dapat dilupakan. Misalnya windu, dasawarsa, milenium, dll.
Statemen yang saya mau ungkapkan adalah, kalau kita bisa melupakan windu atau dasawarsa, apakah kita juga bisa melupakan konsep waktu yang lainnya, hari, bulan, jam, dll? bisa. Namun ada konsekwensinya tentunya. poin saya disini adalah kesadaran waktu.
Salah satu yang dimilliki manusia adalah kesadaran. saya tidak mengatakan kelebihan manusia dibandingkan makhluk lain, karena saya juga tidak tahu apakah makhluk lain memiliki kesadaran atau tidak. kesadaran yang dimiliki manusia salah satunya adalah kesadaran akan waktu. manusia menjadi bagian dari waktu, artinya dia tidak bisa keluar dari dimensi waktu. Apapun yang dilakukan manusia membutuhkan proses yang dapat dihitung dalam dimensi waktu, misalnya mobilitas, atau perpindahan manusia dari satu tempat ketempat lain pasti membutuhkan waktu. misalnya pak Ali dari rumah ke sekolah membutuhkan waktu 30 menit dengan berjalan kaki, tetapi dengan mengendarai sepeda pak Ali membutuhkan waktu 20 menit.
Waktu juga merupakan bagian dari sejarah. konsep sejarah yang paling mendasar adalah ruang dan waktu. Sebagai bagian dari sejarah, manusia tidak lepas dari ruang dan waktu. Segala sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dalam konsep ruang dan waktu, pasti mengalami kontradiksi dalam dirinya sendiri. Dapat ditebak, bahwa fenomena itu tidak benar, bohong, atau belum dapat dibuktikan kebenarannya. hal itu menantang kita untuk melakukan penelitian.
Salah satu fenomena atau cerita yang sering kita dengar dengan perasaan takjub atau mengernyitkan dahi adalah cerita tentang mukjizat para Nabi dan Rosul. untuk menyikapi ketakjuban kita, hendaknya kita mengatakan bahwa hal seperti itu adalah peristiwa sejarah yang biasa dan alami, namun belum dapat dijelaskan fakta tersebut berdasarkan pisau analisa pengetahuan tertentu dan sience yang telah ditemukan pada masa itu maupun kemajuan ilmu pengetahuan sampai sekarang.
Apa yang dianggap mukjizat 2000 tahun lalu, mungkin sesuatu yang biasa pada hari ini. apa yang akan terjadi pada umat Nabi Nuh kalau pada waktu itu Nabi Nuh mengadakan nonton bareng bersama umatnyaz? apa bukan mukjizat itu. Atau Nabi Isa dapat melakukan bedah terhadap tubuh seseorang, melakukan pencangkokan jantung, dll. Hal-hal tersebut tentunya akan menjadi mukjizat pada masa itu, tetapi hari ini hal tersebut sebagai sebuah pencapaian yang dapat dijelaskan.
Hal ini saya tulis untuk menjelaskan cara bersikap yang konstruktif dalam mempelajari kisah para Rasul dan nabi. yang mau saya katakan adalah: pertama, Nabi dan para Rasul adalah orang yang memiliki kesadaran sejarah (Ruang dan waktu) yang sangat maju pada jamannya. Artinya mukjizat bukanlah sesuatu yang ad hoc bagi para rasul. hal itu merupakan potensi yang telah diberikan Tuhan bagi setiap orang. maka Tuhan sebenarnya melakukan penunjukan langsung bagi para rasul, tetapi Tuhan melakukan seleksi bagi para hambaNya. Para Nabi dan Rasul adalah orang-orang yang sukses melalui seleksi itu. setiap hamba mendapat undangan seleksi itu, ada yang hadir ada yang tidak hadir, ada yang lulus, ada yang tidak lulus. Fakta ini menandakan bahwa Allah maha adil. 

selamat datang perubahan

Assalamualaikum, Wr. Wb.
Kepada para pembaca sekalian, dengan hadirnya blog untuk informasi sekolah SDI Arofatul Ulum ini semoga dapat menjadi titik awal perubahan yang kami harapkan demi kemajuan.
Blog ini akan menyimpan dan menyajikan beberapa data-data yang diperlukan oleh internal sekolah khususnya, dan seluruh masyarakat pada umumnya.
terimakasih